Urusan Dapur Rumah Tangga: Bukan Melulu Soal Patriarki

Urusan Dapur Rumah Tangga: Bukan Melulu Soal Patriarki

Setahun lalu, hari-hari saya dihabiskan dengan memotret orang menikah di akhir pekan. Bagian yang paling saya tunggu adalah ketika akan mengucapkan janji atau ijab kabul, dan para saksi mengucapkan kata sah. Lalu terlihat ucapan penuh syukur dan rasa gembira yang tak tertahan dari raut wajah keduanya.

Sebab belum menikah, saya mempertanyakan, apakah segembira itu? Semakin bertambah umur, dan masuk ke dalam fase mempersiapkan pernikahan, ada pikiran dalam diri bahwa pernikahan bukan perlu disambut dengan kegembiraan mutlak atau bahkan menganggapnya sebagai prestasi membanggakan. Ia hanyalah step bertumbuh saja.

Momen semua orang berkata “sah”, sering orang menganggapnya momen penting, karena seluruh kehidupan perempuan ada pada ridho sang suami, bukan lagi pada orang tua. Anggapan ini bagi saya tak romantis, bahkan bagi saya menumbuhkan rasa ragu seakan-akan hidup dikuasai oleh satu pihak.

Belum lagi wacana ‘Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya’ yang dielu-elukan oleh banyak orang. Lalu menelan mentah-mentah argumen itu, dan mengiyakan bahwa tugas laki-laki fokus pada pemberi nafkah, lalu tidak masalah kalau tidak punya banyak waktu dengan anaknya. Ungkapan itu bagi saya juga tidak romantis-romantis amat, dengan menelan mentah-mentah bahwa urusan mendidik anak adalah tugas perempuan.. terasa ada beban yang begitu berat yang hanya dititipkan di punggung perempuan.

Beban-beban tersebut lah yang membuat saya ragu terhadap perempuan akan kehilangan mimpinya saat telah menikah. Pernah saya mengeluhkan hal ini kepada seorang teman saya yang perempuan, ia menanggapi dengan, “Kayaknya karena kita masih egois, mengutamakan mimpi sendiri, belum tahu rasanya menjadi Ibu.” Argumen-argumen seperti ini bagi saya yang malah memupuk rasa pesimis itu semakin subur.

hill asean 2018Kepesimisan itu juga turut didukung dengan data dari Hill Asean 2018, ia melakukan penelitian yang berfokus pada pembagian peran antara suami dan istri, dan bagaimana pasangan membuat keputusan dalam rumah tangganya dalam mengukur kesetaraan gender. Berdasarkan studi tersebut, lebih dari 75% pekerjaan rumah telah dibagikan antara suami istri, yang notabene tolok ukur dari kesetaraan gender.

Untuk Indonesia sendiri, 53% keluarga menggunakan sistem pembagian peran yang berbagi, 25% tradisional (memiliki tanggung jawab perkerjaan yang ada di rumah seperti mengurus anak, dan suami memiliki tanggung jawab di luar rumah seperti bekerja), 20% fleksibel (pembagian tugas yang fleksibel dan berbagi secara setara) dan 2% saja yang peralihan (keterbalikan dari tradisional). Dari sekian pekerjaan rumah tangga, untuk kegiatan memasak di dapur rupanya hanya 3 dari 10 suami yang membantu istri di dapur. Artinya, dalam pembagian peran budaya patriarki masih melekat.

Ada udara segar dari modernitas yang membentuk rumah tangga tak lagi terpusat pada gender, urusan dapur rumah tangga terlihat lebih adil dan setara. Tapi data tersebut tak mampu membuat tenang. Sebab potret perempuan yang lebih banyak saya temui, selalu harus meninggalkan impiannya dahulu karena tanggung jawab berkeluarga, yang semakin memikirkannya, membuat merasa bersalah karena ‘mungkin inilah yang terjadi karena belum menikah, egois sekali’.

Rupanya jawaban itu tak akan pernah bisa saya temukan di luar, begitu lelah ketika mencoba melihat realita yang ada di luar. Mereka memiliki “dapur rumah tangga”-nya masing-masing, dan kita bisa membangun “dapur rumah tangga” kita sendiri. Urusan ada yang membandingkan mana yang ideal dan tidak, itu urusan belakangan, memang tak akan pernah bertemu hasil yang memuaskan apabila meminta orang lain harus menggunakan sepatu kita atau sebaliknya. Tak mungkin pas.

Kegelisahan itu akhirnya saya dapatkan dari.. pasangan saya sendiri. Setelah sekian banyak laki-laki yang malah menyiram kepesimisan tersebut rutin tiap pagi dan sore agar semakin tumbuh tinggi, akhirnya ada yang melakukan sebaliknya.

Sederhana saja keyakinan itu hadir, dimulai dari obrolan saat saya berencana membuatkan sarapan untuknya dan teman-temannya yang jauh-jauh dari kota lain untuk datang, “Aku belanja dulu, ya. Kamu di sini aja sama teman-temanmu.” Ia menolak, ia menemani saya. Lalu, saya memasak dan berpesan, “Aku masak aja ya, kamu nggak usah bantuin.” Sebab, saya tidak terbiasa di dapur dengan dua orang, lebih enak sendiri.

Ia tidak menjawab, tapi tetap ada di dapur, ternyata ia mau memasak. Dan dengan inisiatif, ia melakukan banyak hal di dapur. Kadang saya berpikir, oh mungkin dia lagi mencoba jadi romantis mumpung bertemu, nanti kalau nikah paling ya ujung-ujungnya perempuan yang di dapur.

Tapi lagi-lagi pasangan saya membantu, dan tanpa disuruh membuatkan teh hangat untuk saya sekaligus mengambilkan biskuit gabinnya. Saya agak ragu, apakah dia pejuang kesetaraan gender, atau dalam perjalanan hidupnya pernah menjadi pembantu rumah tangga, hehe bercanda. Mungkin ia akan menjadi 3 dari 10 suami yang ada di data Hill Asean 2018, tapi saya sadar betul dia bukan orang yang mengikuti isu feminisme. Cukup asing dengan perjuangan mengkritisi patriarki, ia lebih suka membaca buku-buku soal pencarian diri, perjuangan buruh, dan semacamnya.

Lalu saya bertanya padanya, “Kamu kan kayaknya nggak ikutin isu feminisme, kok tapi, selalu bantuin di dapur dan inisiatif akan banyak hal? Bagiku itu aneh.” Aneh, karena saya beberapa kali memiliki pasangan, memasakkan, tidak jarang ada yang tida mau cuci piring selepas saya memasak.

Ia jawab, “Kenapa ya.. karena kayaknya aku dulu emang disuruh Ibu bantuin di dapur. Terus, aku dikasih pesan sama Ibu, katanya kalau jadi cowok nanti, harus bantuin istrinya sama mengasihi gitu.”

Tanaman bernama “pesimis” milik saya tiba-tiba layu mendengar itu, dan ingin salim ke Ibunya, berterima kasih. Kedominanan laki-laki dalam pemegang keputusan akan banyak hal, termasuk dalam rumah tangga, memang masih berlaku. Namun, rupanya, diri adalah akan menjadi sosok yang aktif dalam menentukan ia akan menjadi ayah/ibu/suami/istri yang bagaimana. Menjadi penting siapa yang mengajari konsep ayah/ibu/suami/istri, tapi akan ada diri secara aktif yang mampu memilih akan menjalani peran yang bagaimana dalam hidup. Dan dua pribadi dalam rumah tangga masih memiliki harapan untuk membangun dapur rumah tangga, tidak mutlak akan tidak setara dan beban hanya diberikan pada perempuan.

Semuanya bukan melulu soal jangan sampai mencari pasangan yang misoginis, bukan melulu soal sadar akan harus kritis pada patriarki, namun sesederhana menemukan pasangan yang mengerti bagaimana semestinya menjadi sebaik-baik manusia. Soal kesadaran sesama manusia perlu saling membantu dan mengasihi, tak berpikir terlalu muluk apa gendernya.

Referensi:

http://hillasean.com/assets/pdf/Forum_2018_en.pdf

LaRossa, R., & Reitzes, D. C. (2009). Symbolic interactionism and family studies. In Sourcebook of family theories and methods (pp. 135-166). Springer, Boston, MA

Leave a Comment

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.
Required fields are marked *