Cerita @sindyasta: Ketika Pacar Bukan Jaminan Jodoh

Cerita @sindyasta: Ketika Pacar Bukan Jaminan Jodoh

pacaran bukan jaminan nikah
Saat tim kapankamunikah.com mendengar cerita dari Sindy Asta.

Media banyak menjelaskan bahwa pacaran adalah hal yang tidak baik, bahkan gerakan-gerakan anti-pacaran juga banyak bermunculan. Quotes, “Dari pada tukeran coklat mending tukeran buku nikah.” sering banget kita lihat.

Padahal kini kita dihadapkan dengan anak muda yang memang mau mencari pasangannya sendiri, yang mungkin tidak semua bisa paham bahwa pacaran tidak baik. Nggak semua bisa mengerti bahwa memang pacar yang kita sayang-sayang sekarang, bisa jadi besok nggak saling sapa.

Terlepas dari benar dan salah, kapankamunikah.com memang tidak mau sibuk berada di sana, sibuk menentukan mana yang paling ideal. Karena kami sangat menghargai setiap proses dan cerita masing-masing orang. Mungkin ada media lain yang memang memiliki kapasitas untuk itu. Izinkan lah kami menyampaikan begitu berwarnanya cerita dari setiap orang yang kami temui, dengan kehidupan dan cara mereka melewatinya.

sindy asta menikah
Sindy Asta. (Foto: @rahadyankukuh)

Suatu waktu  kami berjumpa dengan sosok perempuan bernama Sindy Asta. Ceritanya bukan lagi ‘istimewa’, namun ada energi lebih saat kita mendengar ceritanya. Bukan sekadar masuk dan mengikuti, namun selesainya ada pesan-pesan yang tertinggal dalam pikiran dan benak.

Jadi di sini, mari mendengar cerita dan pandangan Sindy Asta tentang kisah cintanya, sampai akhirnya November 2017 esok akan menikah dengan Abdur Arsyad, yang sebelumnya belum sempat berpacaran sama sekali.

Ya, belum sempat berpacaran sama sekali, tapi bukan seperti kisah kebanyakan yang tiba-tiba bertemu dan langsung melamar, atau dijodohkan orang tua. Seperti yang tadi sudah disampaikan, cerita Sindy Asta memang istimewa.

Sindy Asta atau yang lebih sering kami sapa Mbak Sindy sempat memiliki hubungan dengan laki-laki beberapa kali, yang akhirnya putus dengan berbagai cara yang tidak mudah. Nggak sekali atau dua kali berjumpa dengan laki-laki yang “serius”, mengajak menikah, lalu nggak ada kabar atau harus berakhir di tengah jalan meski awalnya segala petunjuk mengarah pada laki-laki ini.

Semua orang mungkin kaget ketika di media sosial Abdur Arsyad melalui akun Instagramnya @abdurarsyad upload foto tunangan bersama Mbak Sindy.  Tapi di balik itu, ternyata Mas Abdur udah sering banget godain Mbak Sindy buat diajakin nikah.

Bahkan, saat mereka kembali berjumpa di sebuah kafe untuk nonton AriReda, Mas Abdur masih dengan ajakan yang sama, “Eh kalau tiba-tiba kamu putus sama dia, gak jadi nikah, bilang ke aku ya, biar aku langsung ngelamar.”

Jawaban setelah Mbak Sindy menolak ajakan menikah dari Mas Abdur, karena sudah berencana menikah dengan yang lain.

Rencana tersebut sayangnya hanya menjadi wacana, kalau kata Mbak Sindy, “Gak sido, lanange mblendrang.” Atau singkatnya, cowoknya yang gak jelas.

Gunung menjadi teman dekat Mbak Sindy dalam hidupnya, sedikit banyak yang membuatnya menjadi setangguh sekarang. Saat di Gunung Kelud misalnya, perjalanan dan puncak memberinya waktu untuk mengikhlaskan semuanya.

sindy asta dan abdur arsyad menikah
Belum pacaran sama sekali, tapi berteman baik lama sejak Stand Up Comedy Malang baru lahir. Ternyata pacar bukan jaminan jodoh ya? (Dokumentasi: @rahadyankukuh @ajib__ @mediaduasatu @rexirexii)

Dan di saat yang sama, Mas Kukuh, teman dekat Mas Abdur mulai mempertanyakan kemungkinan bagaimana kalau Mas Abdur melamar Mbak Sindy. Yang nggak lama setelah itu Mbak Sindy dan Mas Abdur saling sepakat untuk serius yang jangka waktunya hanya empat hari untuk saling meminta doa restu.

Semakin dilepas, semakin diikhlaskan, ternyata semakin didekatkan.

Kemudian kami bertanya, ketika pacaran bukan lagi jaminan jodoh, terus penting nggak ‘berpacaran’?

“Ya semua punya kepentingan masing-masing. Pacaran akan menjadi penting ketika pasangan itu merasa penting, pacaran menjadi tidak penting ketika pasangan itu bisa melihat menikah adalah tujuan utamanya. Jadi aku nggak pengin ‘lapo seh pacaran? (ngapain sih pacaran?)’, lho itu haknya mereka, itu prosesnya. Aku selalu berkata, entah itu dalam hal agama, karya, menjalani kehidupan. Ibarat mau ke Surabaya, ada yang lewat jalur bis, ada yang harus ke pulau Bali dulu, ada yang dari Jakarta dulu, kita sudah tahu tujuan kita, cuma.. cara orang untuk mencapai tujuan beda-beda. Dan kita nggak bisa memaksakan kehendak kita, nggak bisa memaksakan pemikiran kita, capek di kita sendiri. Kalau memang kita punya prinsip, ya seminim mungkin kita tutup rapat-rapat untuk diri kita sendiri.”

Kan pacar belum tentu pasti, terus yang lagi punya pacar gimana dong?

“Pacar nggak pasti, menikah lho ya nggak pasti. Ada yang menikah puluhan tahun, tapi akhirnya cerai. Namanya juga jodoh, kita nggak bisa mengukur apakah beneran dia jodoh kita apa enggak. Bahkan aku sama Mas Abdur ya belum tentu jodoh. Kita nggak tau. Yang kita tahu, kita menjalani, kita melakukan sesuatu yang ditresnani (dicintai) gusti Allah. Kalau aku dari pengalaman, pacaran adalah sekolah. Aku bisa berpikiran bahwa kenapa akhirnya pacaran tidak jadi penting, karena aku sudah mengalami itu dan berkali-kali gagal. Setiap orang punya pandangan masing-masing, ya menurutku kamu tetep harus belajar dari orang, yang keliatan ini manusia, yang bisa dipegang, dilihat, diajak bicara itu manusia. Untuk intropeksi diri, aku juga bersyukur gagal beberapa kali, jadi tahu karakter laki-laki. Ya mending aku menjalani kehidupanku, mimpiku, adik-adikku, daripada pacar. Toh jodoh akan didatangkan ketika kita siap.”

Tapi kalau ditinggal nikah gimana?

“Aku dari dulu berprinsip kita itu kehilangan karena kita berusaha memiliki. Seolah-olah pacaran, terus ‘dia cuma punyaku’. Tapi ternyata putus. Tapi ternyata ditinggal nikah. Tapi ternyata dia meninggal. Intinya, kita punya apa sih di sini? Bahkan yang melekat di diri kita ini bukan punya kita. Kalau ditinggal nikah, ya itu sebuah proses kehidupan, yo lek uripmu seneng terus yo gendeng kon (ya kalau hidupmu bahagia terus-terusan, ya jadi gila). Ditinggal nikah itu masih biasa aja, aku ditinggal orang tuaku meninggal lho dua-duanya. Kalau ditinggal nikah.. halah cemen.”

Begitu banyak cerita dari Mbak Sindy, kali ini emang khusus tentang bahwa pacaran juga harus siap dengan konsekuensi yang kita sayang dahulu, akan menjadi bukan siapa-siapa nantinya, bahkan bisa aja ditinggal nikah duluan. Kira-kira, setelah baca cerita Mbak Sindy, apa lagi nih yang diresahkan sebelum menikah?

Leave a Comment

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.
Required fields are marked *