Menikah Memang untuk Bahagia dan Pesan Orang Bijak Lainnya

Menikah Memang untuk Bahagia dan Pesan Orang Bijak Lainnya

Jangan menikah untuk kebahagiaan, ucap orang yang telah menikah. Tapi tidak jarang juga perempuan yang saya temui begitu mendambakan menjadi ibu rumah tangga, padahal bayi-bayi itu memang lucu kalau kita tidak ikut membiayai perawatan dan sekolahnya. Dua statement ini membuat saya mempertanyakan kembali lantas apa tujuan orang menikah? 

Pertanyaan ini saya lemparkan ke banyak orang, bersamaan dengan pertanyaan lanjutan, mengapa kita perlu punya anak? Jawaban yang paling saya tidak suka adalah, meneruskan keturunan. Bukankah, bumi ini sudah sesak? Bukankah kita bukan spesies yang besok akan punah? Dan bukankah kata orang, kiamat terjadi bukan karena kepunahan manusia?

Atau alasan yang umum lainnya, kalau laki-laki sudah punya pekerjaan sebaiknya segera menikah karena daripada uangnya larinya kemana-mana. Ditambah, ya apalagi yang dicari kalau semua sudah didapat kecuali pernikahan? Ungkapan-ungkapan yang tak selesai, sepotong-sepotong ini lah yang membuat saya semakin bingung. Apakah pernikahan memang hanya sebagai pelengkap hidup yang sebenarnya bumerang sebab kata orang juga tak bahagia-bahagia amat? Apa sih maksudnya? Tak heran jika pada akhirnya orang tak mau menikah dengan dalih, bisa mencari kebahagiaan lain dan menikah hanya untuk orang yang mampu, jika alasan-alasan mengapa menikah dijelaskan dengan begitu tidak jelasnya dan hanya fokus pada kebahagiaan-kebahagiaan yang tak jelas pula.

Hingga jawaban itu saya temukan pada obrolan sederhana, seorang teman berkelahiran Bali tapi sangat menyukai budaya Jawa, ia mempelajari banyak hal soal nilai-nilai dalam Jawa. Ia bilang, bahwa bahagia adalah tenang saat senang dan saat susah, ketenangan itu lah yang susah dicari. Dengan menikah, kita bisa belajar pencarian ketenangan itu lebih cepat lagi. Sebab, saya sepakat, bahwa selepas akad nikah selesai sesungguhnya kita bukan hanya dibuka oleh semua serba pahala, tapi juga dibukakan oleh sebuah pintu yang menawarkan kita berbagai permasalahan yang membuat kita harus memikirkan lebih banyak hal dibandingkan saat sebelum menikah.

Dan yang mampu melengkapi pencarian ketenangan itu adalah adanya rasa cukup.

Kita sering terjebak bahwa semakin gaji bertambah, maka semakin besar juga kemungkinan kita untuk membeli ini dan itu. Semakin besar juga ketidakpuasan kita terhadap apapun yang kita miliki, dan sampai kapanpun uang tak pernah benar-benar bisa memberikan definisi kebahagiaan itu sendiri. Jika kita menyukai pasangan kita karena dia cakep, sejatinya selalu ada yang lebih cakep daripada yang sekadar cakep. Yang lebih cakep pun selalu ada yang lebih lebih dan lebih cakep lagi. Lalu ujung dari semua ini apa sih?

Saya juga terpaksa harus berhenti di sebuah kajian agama khusus perempuan karena tak nyaman mendengar sesama santrinya bilang, “Iya, kan cowok itu nafsunya gak ada berhentinya sampai dia tua.” Jujur saja saya mendengar itu ingin menangis dan mendadak mual. Bagaimana bisa perempuan begitu saja mengiyakan ungkapan yang tidak tahu sumbernya dari mana dan mengiyakan begiu lah cara hidup laki-laki? Lantas, apa betul itu yang melegalkan laki-laki lantas boleh poligami? Bukankah dalam agama islam pula kita diajarkan bagaimana makna cukup? Sederhana saja, apakah kita tak pernah puasa barang sehari saja?

Masih seorang teman yang sama yang mengingatkan saya perihal makna kebahagiaan, ia bilang sebaiknya kita mengurangi makan meski tak puasa. Sebab itu adalah langkah nomor satu dalam mempelajari makna cukup. Saat berbuka puasa, porsi makan kita jauh lebih sedikit daripada biasanya, lebih gampang kenyang, kita tahu porsi cukup kita. Begitu pulalah cara bekerja nafsu-nafsu yang lain, yang mengerti porsi cukup adalah diri kita sendiri, yang memberikan definisi cukup juga diri kita sendiri. Dan rasa cukup itu lah yang menjadi dorongan kuat untuk lantas kita bisa menjadi tenang dalam kondisi apapun.

Maka saya rasa tak salah jika menikah itu untuk sebuah kebahagiaan, tapi kebahagiaan itu bukan sama dengan senang, tapi berarti sebuah ketenangan. Ada sesuatu di tengah-tengah antara senang dan susah, yakni sebuah ketenangan. Maka ungkapan sepotong ‘agar uangnya larinya gak kemana-mana’ itu sebenarnya ada benarnya juga bila memang akhirnya uang itu larinya untuk keluarga yang akan membuat kita belajar makna cukup dalam hidup ini. Maka ungkapan bahwa apalagi yang dicari dalam hidup ini jika bukan keluarga? Mungkin ada benarnya juga bila kita telah memahami konsep cukup dan kebahagiaan yang sesungguhnya. 

Dan bagi saya, meski belum menikah, saya tak boleh lantas buta pada alasan-alasan rasional dalam keputusan yang saya buat dan terjebak pada ungkapan sepotong demi sepotong yang nantinya akan membuat kita goyah saat sudah menjalani keputusan tersebut.

Leave a Comment

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.
Required fields are marked *