Membuat Pertengkaran Menjadi Pembelajaran!

Membuat Pertengkaran Menjadi Pembelajaran!

Pertengkaran dalam suatu hubungan percintaan sangatlah wajar. Tidak hanya dengan pasangan, bahkan dengan adik, kakak, orang tua atau teman pun pertengkaran juga sering ditemukan. Jangan terburu-buru mengambil kesimpulan “tidak berjodoh” jika kamu dan pasanganmu sering bertengkar. Karena, pasangan yang sering bertengkar memiliki hubungan yang lebih kuat, lho. Asalkan, pertengkaran yang terjadi bukan tergolong kekerasan secara fisik, tetapi lebih membuat pertengkaran menjadi pembelajaran.

merubah pertengkaran menjadi pembelajaran
Bagaimana cara membuat pertengkaran menjadi pembelajaran? Pict: prelo.co.id

Sebuah situs dari India pernah mengadakan riset pasar dan bekerjasama dengan agensi IMRB, mereka mendapati 44% pasangan yang sudah menikah percaya bahwa pertengkaran membantu komunikasi tetap berjalan. Terlepas dari pertengkaran yang bersifat kekerasan dan deskruktif. Karena membahas masalah dalam hubungan secara kontruktif membuat hubungan bebas stres. “Yang ditunjukkan oleh studi ini adalah bahwa masalahnya bukan apakah pasangan menjadi marah, tetapi bagaimana mereka mengatasinya,” ujar William Doherty, profesor di Department of Family Social Science, University of Minnesota, pada StarTribune.com.

Saat sedang mengalami pertengkaran atau adu argumentasi yang hebat bersama pasangan, coba yuk lakukan 4 tahap ini untuk membuat pertengkaran menjadi pembelajaran:

  1. Diam

Pict: rilexdi.files.wordpress.com
Sering-sering meditasi bisa membantu otak berfikir lebih tenang. Pict: rilexdi.files.wordpress.com

Ketika seseorang sedang marah, sel-sel saraf akan bunuh diri. Tidak sedikit orang yang melakukan tindakan konyol ketika sedang emosi, serta mengeluarkan kalimat dengan nada yang tinggi. Saat kita lagi marah, pasti deh suasana yang memanas dengan nada-nada yang tinggi.

Coba deh diam dulu, tarik nafas dulu. Diam adalah langkah yang tepat untuk mencegah agar pertengkaran tidak semakin parah. Ada sebuah kalimat yang berbunyi “Ketika marah, Andaq hitung angka dari 10 sebelum berbicara. Namun jika sudah terlalu marah, hitung dari seratus.” Kalimat ini menunjukkan betapa bergunanya diam di saat emosi sedang tidak baik.

Merilekskan pikiran dengan cara meditasi ringan juga sangat disarankan. Gunakan waktu senggang untuk merilekskan fikiran agar terhindar dari hal-hal negatif yang mungkin akan timbul jika fikiran masih dipenuhi emosi.

  1. Curhat
Pict: kelascinta.com
Curhatlah kepada orang yang tepat. Jangan malah membuat masalah semakin rumit gara-gara curhat ke orang yang salah. Pict: kelascinta.com

Jika memang tidak memungkinkan untuk memendam sendiri cobalah untuk sharing masalah kamu ke orang lain. Tentunya kepada orang yang tepat. Tapi harus sangat hati-hati. Curhat kepada orang yang salah justru akan memperburuk masalah yang ada. Tips memilih teman curhat yang tepat adalah:

  • Jangan pernah curhat ke teman lawan jenis. Banyak hubungan yang gagal hanya karena setiap ada masalah selalu curhat ke teman lawan jenisnya. Ini harus dihindari walaupun sedekat apapun hubungan kalian.
  • Curhatlah jika emosi sudah mulai mereda untuk menghindari kalimat-kalimat yang terlalu banyak menyalahkan pasangan.
  • Curhat ke teman atau saudara yang dekat dengan pasangan. Hal ini dapat membantumu menerima saran dari sisi orang terdekat pasanganmu. Hindari curhat ke teman yang tidak begitu mengenal pasanganmu, meskipun dia teman dekatmu.
  1. Introspeksi
Pict: duapah.com
Mengakui kesalahan diri sendiri ke orang lain memang hal yang sulit, tapi coba lakukan ke diri sendiri. Pict: duapah.com

Luangkan waktu 15 – 30 menit untuk berkaca dan mulailah untuk introspeksi diri. Sebenarnya intropeksi adalah sesuatu yang paling gampang dan sering dilakukan seseorang, tapi yang harus diperhatikan adalah tinjau masalah dari berbagai sudut. Jangan hanya melihat dari sudut pandangmu saja dan cuma menyalahkan orang lain.

Bukalah pikiranmu untuk melatih tingkat kedewasaan, introspeksi diri juga tidak sulit daripada harus mengoreksi kesalahan orang lain yang justru akan membuat semakin emosi. Jika memang kamu salah, segerakan untuk meminta maaf. Tapi jika kamu memang benar coba bicarakan dengan pasangan. Tentunya tunggu sampai emosi kalian berdua benar-benar baik. Introspeksi juga membantu membuat pertengkaran menjadi pembelajaran.

  1. Komunikasikan dengan pasangan dan cari solusinya

membuat pertengkaran menjadi pembelajaran
Atur momment yang tepat untuk berbicara dengan pasangan. Pict: dunia-remaja.com

Saat emosi sudah membaik, cobalah berkomunikasi dengan pasangan. Bagaimanapun juga pasangan kamu adalah partner seumur hidup yang tentunya akan jauh lebih lama hidup denganmu dibandingkan teman curhat atau teman baikmu sekalipun. Diskusikan apa yang menurutmu salah dan apa yang menurutmu benar, beri pasangan kesempatan juga untuk mengungkapkan apa yang menurutnya salah dan benar. Sehingga kalian bisa saling mengerti kemudian mencari solusi terbaik untuk kedua belah pihak dan membuat pertengkaran menjadi pembelajaran.

Sangat disarankan untuk memilih waktu yang tepat untuk berdiskusi, waktu yang tenang tanpa ada gangguan dari urusan pekerjaan atau apapun. Jauhkan handphone, TV dan media lain yang mengganggu fokusmu terhadap pasangan. Ini saatnya kalian berdua saling mengungkapkan.

Ungkapkan apapun yang kamu rasakan dengan baik, menangis juga boleh. Marahlah jika memang kamu marah, tentunya dengan cara yang baik. Jangan pernah memendam amarah terhadap pasangan, ingat dia adalah teman separuh lebih hidupmu. Partner komunikasi, diskusi dan berdebatmu. Beberapa pakar mengatakan bahwa argumentasi cara terbaik untuk menghadapi masalah, bukan justru hanya menyimpannya saja dan menimbulkan kebencian.

 

Bersyukurlah jika pasanganmu masih marah atas apa yang kamu lakukan walaupun sebenarnya kamu sendiri kadang bingung kenapa harus marah. Setidaknya untuk membangun sebuah hubungan yang kontruktif diperlukan argumentasi dan sudut pandang dari pasangan, daripada pasanganmu acuh terhadap apapun yang kamu lakukan. Menurut Bernie Slutsky, penasihat perkawinan di St Louis Park, Minnesota. Kadang-kadang apa yang kita sampaikan mungkin tidak ditangkap oleh pasangan, sehingga nada suara kita jadi “naik”. “Tetapi ini masih lebih baik daripada hanya duduk dan saling memunggungi. Yang seperti itu lebih destruktif,” katanya.

 

Leave a Comment

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.
Required fields are marked *