Masalah Serius dalam Hubungan yang Serius

Masalah Serius dalam Hubungan yang Serius

“Nikah itu serem. Nggak kebayang harus hidup dengan satu orang tertentu di waktu yang tidak sebentar. Ya, sih, cinta. Tapi kalo ada masalah serius, nanti gimana?”

Jangankan nikah, kebayang punya pasangan untuk arah yang lebih serius aja udah serem banget. Kita nih, yang usianya masih remaja dan/atau baru masuk kepala dua, kepikiran masalah menikah? Semakin serius hubungannya, masalah yang muncul pun makin serius dan berat-berat! Kebayang harus bertemu berbagai masalah dan dealing with the same person-the same problemsEw. Bisa tidak, ya?

Sekarang coba kita menjauhi generalisasi bahwa yang menghindari komitmen hanya laki-laki. Kalau ditarik ke akarnya, rasa takut ini bisa saja muncul dari rasa takut diri sendiri terhadap kemampuan beradaptasi dengan kehadiran individu baru, sebagai orang terdekatmu selama 24 jam 7 hari. Kalau ada masalah sama teman sih, masih mungkin untuk tidak bertemu selama beberapa waktu. Tapi kalau pacar, apalagi suami atau istri??? Pulang ke rumah harus berhadapan langsung?? Astaga!

Terlepas dari seberapa besar cinta dan kasih sayang yang dilandaskan dalam hubungan tersebut, berbagai masalah serius di dalam hubungan yang lebih serius tidak terelakkan. Beberapa hal dapat menjadi pemicu permasalahan dalam hubungan. Kabar buruknya, pemicu tersebut adalah hal yang sangat umum namun sangat efektif dalam menyebabkan perpisahan. Kabar baiknya, selalu ada jalan untuk menjadi master dalam menghadapi dan menyiasatinya.

Kritik

Kritik
Kritik bisa jadi diterima pasangan sebagai suatu ancaman, loh. (Photo source: Getty Images)

Terkadang, saat menyampaikan pendapat mengenai hal yang kita tidak suka terhadap pasangan, malah berujung pertengkaran yang lebih hebat. Mengapa? Karena cara yang salah penyampaian pendapat tersebut. Dalam mengkritik, terdapat kecenderungan untuk mengacungkan jari terhadap pasangan mengenai kesalahan dan kekurangannya. Nyatanya, kritik yang secara langsung menyalahkan kepribadian pasangan sebagai sumber masalah, tidak akan menyelesaikan masalah itu sendiri.
What a Master will do: mencoba memahami apa yang salah dari diri sendiri, kemudian melakukan pendekatan terhadap masalah dengan cara memulai sebuah diskusi. Dalam diskusi sebaiknya tidak berfokus pada permasalahan, namun lebih kepada apa yang masing-masing rasakan dan apa yang diinginkan.

Defensif/Membela Diri Sendiri

Defensif
Hayo, siapa yang masih suka defensif dan tidak bisa menerima kritikan? (Photo credit: Getty Images)

Poin kedua sangat berhubungan dengan poin pertama. Sikap defensif sangat wajar untuk muncul sebagai suatu respon sebuah kritik. Lagi pula siapa yang mau disalahkan? Biasanya sikap defensif muncul dalam bentuk counterattacking dan whining/ playing innocent. Menyerang balik sudah jelas akan menambah bara api. Tapi ternyata sikap playing innocent, pembelaan terhadap diri sendiri karena tidak merasa bersalah pun jarang menyelesaikan masalah. Hanya membuat ego masing-masing semakin besar.

What a Master will dotidak hanya tahu pendekatan terhadap kritik, seorang master juga harus tau cara mengatasi kritik. Kuncinya hanya satu, menerima kritik. Coba dengarkan apa yang pasangan maksud, coba dengarkan bagaimana pandangannya. Mungkin memang ada yang salah tapi tidak disadari, atau mungkin cuma kesalahpahaman. Kalau sudah tau letak kesalahannya, bentuk pertanggungjawaban yang baik adalah memperbaiki, kan? 🙂

Contempt

Contempt
Merendahkan diri pasangan, tidak akan membuatmu menjadi lebih baik. (Photo credit: Getty Images)

Contempt ini bentuknya lebih cenderung ke arah memandang diri sendiri lebih baik dari pasangan. Biasanya muncul dalam sikap berbicara merendahkan pasangan. Bisa juga dalam bentuk sikap superior maupun penghinaan. Wah, jelas saja hal ini diprediksikan sebagai faktor utama yang memancing pertengkaran yang berujung perpisahan.

What a Master will do: seorang Master tidak akan merasa lebih hebat dari orang lainnya (walaupun mungkin hal ini muncul dari dalam diri secara tidak disadari). Tidak hanya dalam hubungan suami istri maupun pacaran, perasaan tinggi hati memang tidak pernah jadi pilihan yang baik, kan? Apabila ini pernah kamu rasakan, coba ingat-ingat kembali hal yang membuat kamu menyukai pasanganmu. Kesulitan-kesulitan apa yang pernah kamu dapat dan bagaimana kontribusi pasanganmu pada masa-masa tersebut. Jangan sampai perasaan cinta dan sayangnya terlindas besarnya diri sendiri, ya. 🙂

Pengabaian

stonewalling
“Terserah, kamu mau marah kayak apa. Aku gak peduli,” (photo credit: Yo Oura)

Wah, jangan menganggap pengabaian dan ketidakpedulian lebih baik dari sebuah kritikan balik, ya. Ibaratnya, masalah yang ditumpuk tidak akan serta merta menghilang, kan? Pengabaian ini 85% dilakukan oleh laki-laki, kebalikan dari kritik yang biasanya muncul dari perempuan.

What a Master will do: PR yang tidak dikerjakan, tidak akan pernah selesai. Rumput liar yang tinggi, tidak akan mati sendiri bila tidak dipotong. Stonewalling, atau mengabaikan pasangan karena hal yang tidak kamu sukai/harapkan bukan jawaban. Jelas-jelas tidak menyelesaikan masalah. Komunikasi, komunikasi dan komunikasi. Mendinginkan kepala untuk tidak memperkeruh situasi merupakan hal yang dianjurkan, tapi tidak untuk kemudian melupakan masalah. Apabila ingin pergi sesaat untuk memikirkan masalah, bicarakan baik-baik. Katakan kebutuhanmu akan waktu untuk menyendiri, dan jangan lupa kembali lagi di saat yang lebih tenang.

********

Dari keempat hal tersebut, mana yang kira-kira paling sering terjadi dalam hubungan kalian? Masalah yang sangat serius ternyata akarnya umum banget, ya? Tidak hanya mungkin terjadi dalam hubungan lawan jenis, namun berbagai hubungan pada umumnya. Keuntungannya adalah, dengan lebih sering menemui permasalahan dan menghadapi kasus yang berbeda-beda, kamu dapat berlatih lebih sering untuk menjadi master dalam menghadapinya. Siapa tau, kelak saat sudah berumahtangga, kamu menjadi sangat lihai dan cekatan dalam menyelesaikan masalah, sehingga tidak perlu berlarut-larut dalam permasalahan keluarga selama selang waktu yang lama.

Selamat berlatih! 😉

Foto: omajibphotography.blogspot.com

Leave a Comment

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.
Required fields are marked *