Kata Mereka yang Sudah Menikah

Kata Mereka yang Sudah Menikah

Setelah mendapatkan fakta mengejutkan tentang pandangan beberapa orang  yang memutuskan menyerah untuk menikah kemarin, hal selanjutnya yang kami lakukan adalah validasi dan konfirmasi kepada ahlinya. Ya, tim kapankamunikah.com langsung bertanya pada beberapa pasangan yang sudah menikah serta meminta saran dari fenomena yang terjadi dimana para responden yang menyatakan hal tersebut berentang usia 20 – 25 tahun.

Pertanyaan pertama yang kami tanyakan adalah; dulu pernah juga kah berpikiran untuk menyerah akan pernikahan?

“Pernah”.

Mereka dari yang baru menjalani pernikahan selama setahun, hingga mereka yang sudah menjalaninya hampir lima belas tahun. Hampir semua menjawab pernah, sehingga menuntun kami ke pertanyaan selanjutnya, gimana ceritanya?

“Sakit hati pasti jadi faktor paling besar memang, belum lagi setelah disakiti manusia memang cenderung trauma untuk membuka hatinya lagi. Dan biasanya pada titik ini lah akhirnya statement untuk nggak menikah itu keluar.”

Yay. Satu poin sudah tervalidasi. Mereka yang sudah menikah pun mengerti bahwa memang tidak heran kalau menyerah akan menikah itu hal yang wajar pada titik-titik seperti diumur sekarang ini. Lalu jawaban barusan menuntun kami ke pertanyaan yang lain, terus setelah menikah gimana?

“Pada titik itu kita kan belum tahu rasanya menikah, ditambah lagi kita disakiti sampai punya krisis kepercayaan. Yasudah itu sisi emosional yang mengendalikan, sampai akhirnya kita menjudge sesuatu yang kita gak paham gimana rasanya. Kuncinya? Ya let it flow aja. Lambat laun kalau memang ketemu jalannya, akan terpatahkan dengan sendirinya judgementalnya itu.”

Masih belum puas, tim kapankamunikah.com terus melontarkan pertanyaan lain atas bagaimana caranya mengobati sakit hati, apalagi krisis kepercayaan yang kita semua tau sulit sekali untuk dibangun. Gimana caranya?

“Ketika kita sakit hati, otomatis kita menutup diri agar tidak memberikan kesempatan untuk disakiti lagi bukan? Tapi sadar nggak kalau begitu, kita juga menutup kesempatan untuk mendapatkan hal yang juga bisa menyembuhkan hati kita.”

“Untuk urusan krisis kepercayaan, gausah di pernikahan bahkan di pertemanan pun ada juga krisis itu. Dan gak bohong, saya yang sudah menikah pun kadang masih mengalami itu, tapi itu semua gimana kitanya yang bisa ngebangunnya lagi. Balik lagi, let it flow. Cuma waktu yang bisa kasih jawaban.”

Sumber: Pinterset.com
Sumber: pinterest.com

“Karena ketika orang memutuskan untuk takut mencari karna takut sakit, yang dia dapatkan malah rasa sakit yg lebih sakit dari yang sudah dia dapatkan. Karna dia menahan rasa sakit tapi nggak ada hal yang bisa menutupi rasa sakitnya itu.”

Sedikit demi sedikit kami mulai mendapat pencerahan. Lalu bagaimana kalau sudah masuk idealis?

“Memang nggak menutup kemungkinan masih ada laki-laki yang beranggapan seperti itu. Aku contohnya, perempuan, sudah punya anak, tapi juga berkarir. Alhamdulillah nya suamiku selalu support aku karena kita satu tujuan. Memang sih karna satu hobi, tapi intinya nggak semuanya kayak gitu. Masih ada laki-laki yang bisa mensupport karir istrinya.”

“Kalau aku, tidak ada istilah tertindas. Aku pribadi meminta istriku untuk tetap dirumah biar bisa fokus mengurus anak. Karena dengan dirumah saja, istri bisa lebih santai dan anak2 banyak mendapatkan perhatian dari seorang ibu. Kalau anak-anak sudah siap ditinggal, kalau ingin kerja ya silahkan kerja.”

Jadi, kesimpulan yang bisa diambil adalah memang ketika kita mencintai seseorang itu sudah sepaket dengan resiko akan sakit hati. Namun itu juga menjadi salah satu proses untuk terus menjadi lebih baik lagi. Dan juga tidak masalah kalau memang berpikir untuk menyerah akan menikah, tetapi kita juga harus ingat kalau perjalanan hidup kita masih panjang, dan masih banyak hal-hal indah yang akan kita dapatkan.

Nah, satu hal lagi yang ingin kami tanyakan. Terus gimana untuk mereka yang takut menemukan pasangan yang cocok?

“Pada dasarnya orang itu diciptakan berpasangan. tanpa dicari pun orang itu akan dituntun untuk menemukan pasangannya. Kita pun gak bisa egois untuk mencari yang baik atau sempurna, belum tentu lho kita ini juga lebih baik dari mereka.  Karna simpelnya…..

…….if you can’t find the right one, be the right one.”

Leave a Comment

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.
Required fields are marked *