Nikah Karena Aplikasi Pencari Jodoh? Nggak Salah Kan!

Nikah Karena Aplikasi Pencari Jodoh? Nggak Salah Kan!

hayo siapa yang udah pernah main aplikasi ini? Sumber: LINE
Hayo… siapa yang udah pernah main aplikasi ini? Sumber: LINE

Ada yang bilang kalau jodoh itu ada dimana saja. Pasti datang, pasti ada, tapi sambil dicari juga. Tapi gimana menurut kalian kalau ada juga yang ketemu sama jodohnya via media sosial? Tim kapankamunikah.com penasaran dengan fenomena unik kayak gini. Kok bisa?

Ternyata aplikasi pencarian jodoh pada dasarnya memang sangat membantu para penggunanya untuk mengenal orang-orang baru yang ada di sekitarnya, dan ternyata bukan hanya tinder aja yang bisa jadi platform untuk bisa ketemu jodoh. Namun tak asing pula bahwa aplikasi ‘pencarian jodoh ini’ kadang hanya sebagai sarana hanya untuk mengenal orang baru. Bahkan tidak sedikit dari mereka para penggunanya yang hanya iseng mengunduh aplikasi-aplikasi semacam ini, dan tidak sedikit juga yang akhirnya menemukan tambatan hatinya dari sini.

Kisah seperti ini seperti kisah yang dimiliki Didin dan Intan. Dua sejoli ini sudah dalam tahap satu langkah lagi menuju pernikahan yang berawal dari sebuah aplikasi. Dan yang paling bikin cerita ini unik adalah jarak dari mereka saling kenal sampai akhirnya memutuskan untuk menikah tidak sampai satu tahun loh! Penasaran kan gimana ceritanya? Yuk simak hasil ngobrol-ngobrol kami dengan mas pemilik kedai kopi ini dengan calon istrinya:

Apa sih alasan pertama sampai bisa main aplikasi-aplikasi tersebut?

“Kalau aku karna memang kerjaku yang ngontrol kedai dan ruang lingkupku yang terbatas sampe akhirnya ngerasa mentok untuk cari temen baru dengan cara yang riil . Nah kalau Intan dia memang suka untuk ketemu orang-orang baru. Idealis kita sama sih, namanya juga platform untuk kenalan dengan orang baru, kita ga munafik pengen nyari pasangan. Tapi itu kan gimana kedepannya. Yang penting kita nyari temen dulu memang niatnya dan cara paling mudah ya dari aplikasi itu”

Nah berarti pasti ada pertimbangan dong ya? Apalagi di aplikasi Cuma menampilkan foto profil dan beberapa deskripsi diri. Itu gimana?

“Karena emang berbasis chat, appearance itu juga pasti jadi pertimbangan tapi klasifikasinya nggak bisa dari foto aja kan makanya diajak ketemu langsung. Baru setelah itu bisa menilai mana yang bisa dijadiin temen nongkrong doang, atau malah jadi pacar. Kan awalnya kita chat-chatan dulu. Itu dulu penilaian pertama, gimana diajak ngobrolnya, bercandanya nyambung nggak. Kalau sudah gitu hal yang selanjutnya dilakukan pasti ketemu dong? Nah kalau sudah dititik ini baru penilaian selanjutnya. Tapi kami gak muluk-muluk kok, yang penting buat appearance kalo ke kondangan gak malu-maluin hahaha”

Hahaha manis banget dua sejoli ini. Terus first impression nih. Untuk kasus kalian, ketika pertama kali bertemu apa langsung ada pemikiran untuk menuju pernikahan?

“Enggak lah,” saut mereka berbarengan. “Ini malah lucu ceritanya sekitar dua bulan pertama masing-masing dari kita ngasih karakter yang bukan kita banget, dalam rangka ingin mencegah adanya baper. Sampe akhirnya kita saling curhat, dan dari situ baru berasa kalo kita sama-sama bukan orang yang seperti itu. Mulai dari sana baru kita nunjukkin karakter kita yang asli setelah dua bulan jalan.”

Kalo jangka waktu dari kalian match sampe akhirnya memutuskan untuk menikah itu berapa lama?

“cepet banget nggak sampai setahun sekitar 8 bulanan. Karena memang dasarnya proyeksi kita menikah, aku yang sudah waktunya menikah dan Intan yang sudah mendapat tuntutan dari keluarga untuk menikah. Jadi selama niat kita baik untuk menikah, ya kenapa enggak kan?”

Undangan pernikahan Didin dan Intan yang akan diselenggarakan pada 14 April 2018. foto: kapankamunikah.com
Undangan pernikahan Didin dan Intan yang akan diselenggarakan pada 14 April 2018. foto: kapankamunikah.com

Nah ini pertanyaan inti nih…kok bisa percaya sih sama orang asing apalagi dalam hal pernikahan?

Karena balik lagi, kita emang nggak pernah tau siapa yang akan kita temuin dan jodoh bisa dimana aja. Kita percaya akan hal itu jadi kita nggak menutup kemungkinan. Dan ternyata kita dipertemukan di saat yang tepat dan masing-masing dari kita memang ingin berkomitmen. Jodoh itu kayak rejeki, kita nggak pernah tau datengnya kapan.

Karena kenal via jejaring sosial, pernah nggak ngelewatin krisis ke-tidak percayaan?

Alhamdulillah sih sampai saat ini enggak karna kita saling terbuka. Saling ngungkapin masalah masing-masing dan willing buat nyari solusi bareng-bareng. Yang paling penting komitmen. Itu udah jadi landasan buat bisa percaya sama pasangan kita. Sekarang analoginya gini, kalo dari angka 1-100 kita kan nggak mungkin sama-sama nunggu kita atau pasangan kita untuk sampe angka 100 dalam mempersiapkan diri. Makanya itu, oke ini sudah komitmen dalam artian untuk kita berdua sama-sama melaju ke angka 100 bersama-sama.

“if it meant to be it will be”

Didin dan Intan.
Didin dan Intan.

Itu yang terus mengingatkan mereka bahwa jalan untuk bertemu pasangan hidup bisa terjadi bagaimanapun ceritanya. Didin dan Intan yang bertemu via aplikasi LINE People Nearby ini mengakui memang sebelum-sebelumnya sering mengalami zonk dalam perjalanannya mengarungi pencarian jodoh lewat aplikasi. Tapi ya itu, kalau sudah jodoh ya bertemu. Dan satu hal yang masih membuat kita bingung dalam kisah cinta mereka, dari sekian banyak percintaan yang telah mereka lalui, kok bisa-bisanya langsung bisa melangsungkan pernikahan, dalam jangka waktu sesingkat itu, dan pertemuan seunik itu. Jawaban mereka pun tidak kalah luar biasa:

Karena komitmen itu bukan tentang waktu, tapi tentang mau.”

Jadi gengs, semangat mencari jodohmu ya!

Leave a Comment

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.
Required fields are marked *