Hubungan Seks Sebelum Nikah, Apakah Baik-Baik Saja untuk Pernikahan?

Hubungan Seks Sebelum Nikah, Apakah Baik-Baik Saja untuk Pernikahan?

Beberapa tahun terakhir fenomena seks yang dilakukan sebelum pernikahan semakin meningkat, baik di negara maju maupun di negara berkembang. Fenomena ini terjadi karena beberapa alasan praktis, salah satunya adalah perubahan pola pikir masyarakat yang memandang pernikahan adalah sesuatu yang rumit dan tidak diperlukan. Jika dulu orang menganggap menikah adalah cara yang tepat untuk menyalurkan hasrat seksual dan memiliki keturunan, kini padangan tersebut bergeser.

Terdapat sebagian orang yang menganggap, jika dengan melakukan seks tanpa pernikahan dapat dilakukan dengan mudah tanpa harus menanggung konsekuensi menjalani pernikahan  yang butuh tanggung jawab besar, lalu kenapa harus menikah?

Namun, hal ini tentu juga memunculkan pertanyaan yang mungkin berlawanan. Apakah dengan melakukan seks pra-nikah semuanya sudah cukup terpuaskan? Lalu seandainya menikah, apakah pengalaman melakukan seks pranikah tidak akan berpengaruh pada kehidupan perkawinan?

Melakukan Seks Pra Nikah         

Mari kita sepakati bersama, bahwa setiap hal yang kita putuskan dan lakukan adalah sebuah pilihan, dan setiap pilihan akan selalu disertai konsekuensi-konsekuensi, terlepas itu konsekuensi negatif ataupun positif.

Ketika orang memutuskan untuk melakukan seks pra nikah maka ada sejumlah konsekuensi yang akan diterima:

  • Risiko fisik: meningkatnya risiko kehamilan yang tidak dikendaki, memungkinkan mengalami penyakit seksual menular
  • Risiko non-fisik: beberapa orang mungkin akan dihantui perasaan bersalah atau “kotor” pada dirinya apabila memiliki value yang bertentangan.

Melakukan seks pra nikah menimbulkan beragam perasaan dan pikiran:

  1. Apabila pasangan merasa tidak “sreg” dan tidak memiliki “value yang menolak seks sebelum pernikahan”, maka sebuah hubungan bisa terguncang.
  2. “Rasa ketidakpuasaan atau nyaman” juga bisa mengakibatkan salah satu pihak mundur atau mencari pasangan lain.
  3. Merusak hubungan berikutnya, ketika seks dilakukan sebelum menikah akan ada kenangan yang tersimpan, jika memori buruk yang tersimpan dengan pasangan yang mungkin beda dengan yang dinikahi–memungkinkan rasa “trauma berhubungan seks” dengan pasangan yang dinikahinya. Bagaimana jika seks yang dilakukan pra nikah menimbulkan kenangan baik? Jika pada akhirnya dia menikah dengan pasangan yang sama, masalahnya bisa jadi tidak ada. Tapi jika berbeda? Maka hal ini memunculkan rasa “terbayang mantan” sehingga ketika menjalani dengan pasangan yang dinikahi, muncul pembandingan “kenapa ya kok ga seperti dia?” “Kok ga sesuai ekspetasi?”, “Kenapa tak seindah yang dulu?”
Foto dari: https://commons.wikimedia.org
Foto dari: https://commons.wikimedia.org

Kenapa Seks Pranikah?

Tidak bisa dipungkiri bahwa keberadaan alat kontrasepsi menjadi salah satu hal yang membuat orang berani mengambil keputusan melakukan seks pranikah. Alat kontrasepsi memang ditujukkan untuk mencegah kehamilan yang tidak diinginkan. Salah satu jenis alat kontrasepsi yang bisa digunakan untuk pencegahan penyakit kelamin menular dan mencegah kehamilan adalah kondom.

Penggunaan alat kontrasepsi di negara berkembang biasanya untuk menekan jumlah kelahiran sehingga mengurangi bertambahnya penduduk. Walau jauh di masa Sebelum Masehi (SM) pun alat kontrasepsi sudah dikembangkan. Indonesia mulai popular dengan alat kontrasepsi karena adanya program Keluarga Berencana (KB) yang dimulai pada tahun 1957, dengan tujuan mengurangi meledaknya jumlah penduduk.

Seiring berjalannya waktu alat kontrasepsi di Indonesia tidak sekadar untuk mengurangi jumlah penduduk, karena mampu mencegah kehamilan. Alat kontrasepsi membuat sebagian orang melakukan seks pra nikah dengan alasan “aman” sehingga mengurangi risiko yang tidak diinginkan. Tapi benarkah semua yang melakukan seks pra nikah benar-benar menggunakan alat kontrasepsi sebagai “pengaman”?

Seks Pranikah & Tanpa “Pengamanan”

Kenyatannya tidak sedikit orang yang melakukan seks pra nikah tanpa pengaman dengan dalih “kurang nyaman”, itu adalah pengambilan risiko yang besar! Sebab bukan hanya memperbesar kemungkinan tertular penyakit, namun juga peluang akan hamil yang tidak diinginkan semakin besar.

Pertanyaannya: mengapa harus ambil risiko besar kalau nanti yang tidak diharapkan justru terjadi? Akibatnya apa? Muncul kemarahan, ataupun “pembunuhan” dengan aborsi. Walau dengan menggunakan pengaman pun masih memunculkan risiko kehamilan.

Foto: .pexels.com
Foto: .pexels.com

Apakah Cinta Hanya Tentang Seks?

Berdasarkan apa yang dipaparkan sebelumnya, ada sesuatu yang menggelitik, jika seks adalah sesuatu yang dilakukan atas dasar cinta, maka apakah cinta hanya memerlukan unsur seks?

              “JAWABANNYA TIDAK!”

Penjelasannya bisa dimulai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Bersheid, dkk (dalam Brigham, 1991), dikutip dari buku Psikologi Sosial, Dayakisni & Hudaniah (2012), passionate love (cinta birahi):

  1. Terlihat lebih merangsang ke arah fantasi dan hadiah yang dibayangkan melebihi yang terjadi di dunia nyata. Jadi ketika seseorang memunculkan rasa suka, hal itu terjadi akibat dari penguatan yang diterima.

Semisal kamu cowok, muncul rasa suka pada seorang cewek karena tiap kali kamu menyapanya dia ramah, lalu kamu bicara, dia antusias. Kamu beri perhatian, dia tampak menyambut positif. Maka ramah, antusias, dan sambutan positif cewek = penguatan.

Dalam passionate love, penguatan yang diberikan ke si cewek akan cenderung merangsang fantasi dan hadiah, dan apa yang cowok ini bayangkan bisa saja melebih-lebihkan dari penguatan/respon yang cowok ini terima. Misalnya dengan ramah, sambutan psoitif, dan antusias dianggap si cewek udah pasti tergila-gila pada si cowok.

  1. Passionate love sifatnya sementara, akan memudar seiring berjalnnya waktu, karena hal yang muncul akan berkembang pesat pada saat situasi dan kondisi masih baru, belum benar-benar mengenal, dan belum ada kepastian.
  1. Passionate love hampir selalu berhungan dengan konflik emosi. Misalnya: kamu mudah merasa labil, seperti merasa cinta dan suka, namun pada saat yang sama juga ilfil dan ingin menjauh.

Triangular Theory of Love

Hubungan cinta yang ideal menurut Triangular Theory of Love milik Robert Strenberg (1987) terdiri atas 3 komponen atau unsur:

  1. Intimacy = terdiri atas perasaan yang memunculkan kehangatan dalam hubungan (saling berbagi, memahami satu sama lain, dan memberikan dukungan emosional alias ada disaat senang dan susah)
  2. Commitment = saling sepakat mencintai satu sama lain, serta bersepakat untuk memelihara dan menjaga cinta dalam hubungan
  3. Passion = mengarah pada daya tarik romantisme, fisik, sekaligus perilaku seksual

Cinta yang hanya dilandasi pada passion, dan orang menganggap perilaku seks pranikah hanya berhubungan dengan passion, pada ujungnya menurut Strenberg, infatuation love (atau cinta yang hanya berlandasakan pada passion saja), cinta ini hanya akan fokus pada obsesi untuk membuat pasangannya menjadi ideal seperti apa yang dia bayangkan, dalam  hubungan sebagai pasangan, biasanya akan terjadi ketidaksetaraan dan ketidakstabilan hubungan.   Mungkin benar kata pepatah: “jika kita jatuh cinta karena yang sifatnya fisik, maka itu akan sementara. Namun, jika kita jatuh cinta karena kebaikan hati dan sifat, maka dia akan bertahan lebih lama.”

Lalu, ada apa dengan menunda seks sebelum nikah?

Meski sebagian orang memilih melakukan seks pra nikah dengan banyak alasan, namun ada sebuah penelitian ilmiah yang bisa membuatmu yakin atau pikir dua kali untuk melakukan seks pra nikah. Menurut penelitian Dean Busby (2010) pasangan yang memilih menunda atau hanya akan melakukan hubungan seks pasca pernikahan sah, lebih bahagia kualitas seksnya, hubungan dengan pasangan lebih stabil, dan kepuasan hubungannya lebih baik jika dibandingan dengan pasangan atau orang yang melakukan seks pra nikah.

Kenapa bisa begitu?

Dean Busby (2010) mengatakan ketika orang memilih untuk menunggu waktu sah pernikahan demi melakukan hubungan seks, pasangan akan saling belajar untuk berkomunikasi tentang apa yang akan mereka lakukan supaya hubungan terjaga baik meskipun tidak melakukan hubungan seks, sehingga dengan adanya komunikasi yang terjalin baik, akan membuat hubungan menjadi lebih stabil untuk jangka waktu yang panjang. Ahli lain mendukung penelitian ini dengan menyatakan bahwa ketika pasangan tidak melakukan hubungan seksual sebelum menikah, mereka akan berupaya membangun komunikasi agar hubungan berjalan baik, pada saat itulah akan muncul rasa percaya dan merasa bahwa pasangan adalah orang yang bisa diandalkan dalam hubungan yang lebih dalam.

Selain alasan ilmiah di atas, mari kita bayangkan, apabila seks dilakukan sebelum pernikahan dengan pasangan yang ternyata bukan suami/istri kelak, maka apa yang terjadi? Ada kemungkinan yang terjadi, salah satunya bisa jadi kita akan membandingkan pengalaman berhubungan seks di masa lalu dengan apa yang dijalani dengan pasangan yang dinikahi. Hal tersebut bukan tidak mungkin menganggu kepuasan seksual, pola komunikasi dan aspek-aspek dalam rumah tangga lainnya. Kok bisa? Ya bisa, karena ketika pernah melakukan hubungan seksual sebelum nikah dan ternyata ingatan tentang hal itu menancap indah, maka bisa jadi gagal move on dari situasi di masa lalu, sehingga cenderung melakukan perbandingan dengan apa yang dijalani di masa kini. Kok pasanganku ga seperti dia ya? Kok beda? Dll

Eh, tetapi bisa jadi orang yang melakukan kegiatan seksual sebelum menikah menjadi baik-baik saja pernikahanya di masa depan, apabila sebelum menikah hal ini sudah dikomunikasikan dengan calon, alias calon sudah tau masa lalu pasangan. Dengan begitu komunikasi bisa menjadi sarana untuk saling menerima satu sama lain, ya menerima masa lalunya dan berdamai dengan keadaan, sehingga mungkin saja keadaannya menjadi berbeda dengan penelitian dan fakta di atas.

Menjalin hubungan dengan seseorang tidak melulu hanya urusan seks semata. Jika cinta hanya dibangun atas dasar unsur seksual semata, pertanyaanya: Benarkah seks akan mampu membuat pasangan bertahan menghadapi masalah kedepan?

Perkawinan yang baik harusnya dilandasi dengan passion, intimacy, dan commitment. Sedangkan salah satu cara dalam melakukan seleksi pasangan, maka perlu dibangun sebuah komunikasi yang baik untuk menghadapi masalah, membangun pondasi kepercayaan, dan memiliki rasa untuk bisa saling diandalkan dalan situasi dan kondisi tertentu.

Referensi:

Leave a Comment

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.
Required fields are marked *