Gamophobia: Mereka yang Takut Menikah

Gamophobia: Mereka yang Takut Menikah

Sama seperti hari kelahiran, hari kelulusan dan hari pertama bekerja, hari pernikahan merupakan hari yang ditunggu-tunggu oleh banyak orang. Menikah juga dianggap sebagai salah satu batu pencapaian dalam hidup seseorang. Tapi jangan salah, beberapa orang masih takut menikah. Wajar, karena memang urusan menyatukan dua individu dalam satu ikatan yang sakral memang tidak bisa dilakukan secara main-main. Tapi kira-kira, ada nggak yang punya rasa takut yang berlebihan mengenai pernikahan maupun komitmen?

Hieros Gamos merupakan ritual sakral khusus dalam budaya Yunani kuno. Dalam ritual ini, persekutuan tubuh dua makhluk dengan jenis kelamin berbeda dianggap sakral karena melibatkan Dewa Dewi. Dari kata “Gamos” yang menggambarkan pernikahan tersebutlah, gamomania dan gamophobia muncul. Gamomania disematkan pada orang-orang yang memiliki keinginan berlebihan terhadap pernikahan atau persekutuan tubuh.

Sedangkan sebaliknya gamaphobia menunjukkan seseorang dengan ketakutan yang irasional terhadap pernikahan maupun komitmen. Orang yang mengidap gamophobia sangat mungkin jatuh cinta atau menyukai seseorang dan menjalani hubungan, namun dia menghindari pernikahan dan komitmen yang lebih serius. Jadi berbeda, ya, dengan philophobia (ketakutan akan jatuh cinta) dan sangat berkebalikan dengan anuptaphobia (ketakutan tidak memiliki pasangan).

Runaway Bride Cake
Punya orang yang dicintai, punya pasangan, tapi selalu menghindari pembicaraan tentang pernikahan? (Gambar: Getty Images)

Beberapa gejala utama orang yang takut menikah baik perempuan dan laki-laki dapat dikenali dengan mudah. Gejala utama ketakutan yang ekstrim dan irasional atas pernikahan dan komitmen umumnya disertai penghindaran bahasan maupun acara pernikahan. Dia bisa menjadi sangat panik, agresif, bahkan marah besar mengenai hal tersebut. Pengidap gamofobia sadar bahwa pemikiran mereka irasional, namun mereka tidak dapat mengontrol perasaan tersebut. Dalam kondisi yang panik yang kronis, dapat disertai dengan tubuh yang bergetar, detak jantung yang cepat, kesulitan bernafas, mual, pusing, pingsan maupun keringat dingin.

Fobia sebenarnya lebih cenderung diciptakan oleh lingkungan sosial. Kira-kira apa, ya, yang menyebabkan gamophobia? Takut menikah dan takut akan komitmen nyatanya lebih sering ditemui pada laki-laki. Mereka cenderung menghindari dan merasa takut terhadap risiko-risiko dalam ikatan sakral pernikahan. Risiko-risiko personal, finansial dan sosial tersebut dapat dijelaskan dalam tiga poin utama.

Personal Insecurity

Insecurity

Keresahan personal adalah sumber yang paling umum ditemui. Takut akan munculnya tanggung jawab baru sebagai suami/istri maupun bapak/ibu. Selain tanggung jawab, keresahan juga ditemukan atas berbagai sebab. Misalnya ketidakmampuan seseorang untuk bertahan dalam ikatan, keresahan berbagi hal personal, sosial, legal dan finansial dengan pasangan serta faktor seksual. Risiko-risiko dan kerentanan yang belum terjadi inilah yang menyebabkan seseorang merasa takut menikah atau berkomitmen.

Pengalaman Buruk terkait Pernikahan

Boy Between Fighting Parents

Insiden yang terjadi di masa lalu dapat berperan dalam pembentukan citra negatif pernikahan bagi seseorang. Beberapa insiden yang mungkin mempengaruhi adalah pernah melihat kedua orangtua atau pasangan lain bertengkar hebat, perceraian orangtua, tindakan abusif oleh orangtua, kegagalan dalam pernikahan sebelumnya, pengalaman dikhianati oleh pasangan serta mendengarkan berbagai cerita kegagalan pernikahan dalam frekuensi yang sering.

Depresi

Depresi

Rasa takut menikah dapat juga muncul akibat sikap depresif seseorang. Bisa jadi seseorang sangat menginginkan menikah, namun merasa tidak mampu menjalaninya. Perasaan rendah diri dan kurangnya kepercayaan pada kemampuan diri sendiri maupun kemampuan seksual dapat menyebabkan depresi yang kemudian menyebabkan seseorang ini merasa terhambat dalam urusan pernikahan.

 

***

Gamophobia ringan dapat diatasi dengan pelan-pelan mencari solusi akan akar ketakutan menikah. Misalnya kecemasan akan tanggungjawab menjadi seorang suami dan bapak yang memotori keluarga, dapat pelan-pelan disembuhkan dengan banyak berdiskusi dengan orangtua, saudara ataupun orang yang lebih berpengalaman. Pada level yang lebih serius, ketakutan yang ekstrim dapat mengancam hubungan dengan keluarga atau orang lain, terlebih bila keadaan ini telah berlangsung lama (lebih dari enam bulan).

Bagi gamophobic level kronis, terapis dapat sangat membantu dengan konseling-konseling yang lebih dalam mengenai pernikahan. Ketakutan akan pernikahan memiliki asal-usul dan cerita latar yang berbeda-beda. Sehingga dengan melakukan diskusi-diskusi dan konseling dengan orang yang berpengalaman maupun dengan terapis, diharapkan penderita dapat mengatasi kekhawatirannya dengan bertahap dan memberikan gambaran yang lebih baik mengenai pernikahan.

Foto utama: Dumitrescu Victor

Leave a Comment

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.
Required fields are marked *