Dijodohkan VS Memilih Sendiri, Kamu Pilih yang Mana?

Dijodohkan VS Memilih Sendiri, Kamu Pilih yang Mana?

Di era yang serba digital ini tentunya sebuah perjodohan mulai menjadi hal yang tidak begitu umum lagi. Berbeda sekali dengan beberapa puluh atau justru ratusan tahun yang lalu, atau biasa kita kenal dengan sebutan zaman Siti Nurbaya. Kebebasan berpendapat dan alasan demi kenyamanan pribadi masing-masing yang menjalankan membuat sebagian besar orang lebih memilih pasangannya sendiri daripada dijodohkan. Tapi bukan berarti kisah perjodohan tidak ada di zaman sekarang. Masih ada kok, hanya saja caranya tidak sekaku zaman dahulu.

Sebenarnya enak mana sih dijodohkan atau memilih sendiri?

 

Polling dijodohkan

Berdasarkan polling kapankamunikah.com di akun Twitter-nya beberapa saat yang lalu, 92% setuju dengan “memilih sendiri”. Pengaruh zaman yang terus berubah membuat mereka juga ingin kebebasan atas pilihannya sendiri. Tapi ada 8% dari mereka yang memilih “dijodohkan”. Apa itu salah? Jelas tidak. Manusia punya hak untuk memilih jalan apa yang mereka inginkan, termasuk memilih untuk “dijodohkan” atau “memilih sendiri”

Tentunya kita semua peka akhir-akhir ini kasus perceraian dan pertengkaran marak diceritakan dimana-mana yang kebanyakan justru bukan dari pernikahan yang dipaksakan atau mereka yang memilih pasangan sendiri. Terdengar aneh, padahal itu kan pilihan mereka kenapa justru akhirnya harus berpisah atau berujung perceraian? Sedangkan mereka yang dijodohkan kebanyakan ‘walaupun ada beberapa yang berakhir sama’ bisa langgeng seterusnya.

Berpisah
Pic: ©Shutterstock/zimmytws

Di zaman nenek kakek kita, sebuah pernikahan itu dianggap sebagai cara menjaga martabat di sebuah kelompok. Pada zaman tersebut, cinta bukanlah sesuatu yang penting untuk ada di awal suatu hubungan karena cinta dipercaya akan tumbuh seiring waktu. Berbeda dengan zaman kita sekarang, pernikahan kebanyakan dilihat sebagai suatu proses menyatukan dua hati yang sama-sama saling cinta. Tidak mengherankan bahwa hubungan lebih mudah terpisah jika perasaan cinta tersebut tidak lagi ada.

Selain itu mudahnya akses untuk bercerai di zaman sekarang membuat pasangan yang sedang emosi-emosinya memilih opsi untuk berpisah, sedangkan di zaman dahulu status “janda” atau “duda” merupakan hal yang dipandang negatif oleh sebagian masyarakat yang justru jauh berbeda dengan zaman kita sekarang.

Jadi sebenarnya bukan bagaimana cara kita dipertemukan dengan pasangan hidup. Mau dijodohkan atau memilih pasangan hidup sendiri itu bukan suatu kendala, tapi lebih ke bagaimana cara kita melihat sebuah pernikahan. Berusaha saling menyesuaikan dengan pasangan serta membuat rasa cinta terus bertahan, salah satu kunci kehidupan pernikahan tetap langgeng. Soal dijodohkan atau memilih sendiri bukan masalah kan?

Foto utama: lukihermanto.com

Leave a Comment

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.
Required fields are marked *