Cara Melamar Teuku Umar Ke Cut Nyak Dhien Bisa Kamu Coba

Cara Melamar Teuku Umar Ke Cut Nyak Dhien Bisa Kamu Coba

Sebagai orang Indonesia, pasti kenal banget deh dengan Cut Nyak Dhien. Di balik karakter berani dan kuatnya sosok pahlawan perempuan ini, ternyata Cut Nyak Dhien punya kisah pernikahan yang menakjubkan hingga kita akan mengaguminya karena perjuangannya, selain itu ada juga yang bikin kita nggak habis pikir, lho!

Pada 28 Juni 1878, Cut Nyak Dhien kehilangan suami tercintanya, Teuku Ibrahim Lamnga, karena tewas dalam perang melawan Belanda di Gle Tarum. Begitu Cut Nyak Dhien mengetahui kabar ini, ia marah besar dan tak tanggung-tanggung, rasa cintanya membuat ia bersumpah akan menghancurkan Belanda!

Lebih berani lagi, Cut Nyak Dhien bahkan berjanji bersedia menikah dengan laki-laki yang mau membantunya untuk balas dendam atas kematian Teuku Ibrahim. Waktu berjalan dari tahun ke tahun, Cut Nyak Dhien tak segera menemukan pendamping hidupnya lagi yang akan memimpin pasukan perang juga. Bertahun-tahun pula Cut Nyak Dhien memimpin pasukan perangnya sendiri. Cut Nyak Dhien emang sosok yang kuat banget, ya?

Hingga akhirnya datang Teuku Umar, seorang pria dari Meulaboh yang telah jatuh hati pada pandangan pertama ketika bertemu Cut Nyak Dhien. Bukan pria kalau nggak berani, Teuku Umar pun langsung sampaikan maksudnya kepada Cut Nyak Dhien, “Saya bersedia menjadi panglima perang pasukan ini. Namun, dengan syarat Cut Nyak Dhien bersedia menjadi isteri saya.”

Cara melamar Teuku Umar ke Cut Nyak Dhien berani banget kan? Tapi ternyata, Cut Nyak Dhien bukannya menemukan sosok yang ia cari-cari, ia malah menolak mentah-mentah! Waduh, sakit banget gak tuh ditolak mentah-mentah oleh perempuan? Nggak kehilangan akal, Teuku Umar pun menyusun rencana agar lamarannya diterima oleh Cut Nyak Dhien dengan drama!

Di saat Cut Nyak Dhien sedang melatih perang, datang lah orang yang ramai-ramai mengangkat Teuku Umar yang berlumuran darah dengan tandu, tentu saja Cut Nyak Dhien sebagai pemimpin pasukan perang langsung terkejut.

Cut Nyak Dhien: ‘Pakôn nyôe? (Kenapa ini?)

Teuku Umar:Lôn meujak Woe (Saya mau pulang)’

Cut Nyak Dhien: ‘Bék, ta peu ubat dile nyoe. Meusti ta peubat diléé. Bék putoh asa.’ (Jangan, kita obati dulu, harus kita obati ini. Jangan putus asa). *dengan gelisah*

Teuku Umar: ‘Bah matéé lon, Cut Nyak tulak cinta lôn, (Biarkan saja saya mati, karena Cut Nyak Tolak cinta saya)’

Cut Nyak Dhien: ‘ Ta peu ubat nyoe diléé, euntrek ta peu buet nyan (Kita obati ini dulu, nanti baru kita urus yang itu).

Teuku Umar: ‘Hana peu, Cut Nyak jôk manteung ubat nyan keu lôn (Tak apa, Cut Nyak beri saja obat itu ke saya).

Ternyata zaman dahulu ada adegan drama semacam ini ya? Tapi gak percuma, karena Teuku Umar pun berhasil mendapatkan Cut Nyak Dhien menjadi istri! Setelah sembuh dari ‘luka’ yang sebenarnya adalah rekayasa, Teuku Umar pun menagih janjinya. Bukan pahlawan jika tak menepati janji, Cut Nyak Dhien pun memenuhi janjinya dengan menikah.

Keren juga kan cara melamarnya? Sudah pernah coba melamarnya belum? Kalau belum segerakan ya! Dengan cara melamar Teuku Umar ke Cut Nyak Dhien bisa kamu jadikan referensi bahwa sekali ditolak, belum tentu ditolak selamanya, selalu ada jalan bila memang jodoh.

Foto utama: 1080.plus

Leave a Comment

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.
Required fields are marked *