5 Hal yang Bisa Jadi Patokan Untuk Memantaskan Diri

5 Hal yang Bisa Jadi Patokan Untuk Memantaskan Diri

Sampai ke tahap pernikahan memang nggak semudah itu, ada perjalanan, pertimbangan dan berbagai pemikiran lain yang harus disiapkan. Salah satunya adalah memantaskan diri agar dapat jodoh yang baik pula, bukan? Kalau dua pribadi baik dipertemukan, kemungkinan besar jalan ke depannya akan lebih mudah. Nah, tapi udah ngerti nggak sih ‘memantaskan diri’ yang kayak gimana?

Satu hal yang wajib banget dipahami adalah, memantaskan diri jangan diartikan semata-mata karena jodoh kita. Nantinya malah nggak fokus menjadi pribadi yang baik, malah fokus cari jodohnya. Nah kalau selama ini masih bingung memantaskan diri yang kayak gimana, lima hal di bawah ini merupakan hasil survey dari kapankamunikah.com yang bisa banget dijadikan patokan.

cara memantaskan diri
Memantaskan diri yang tepat bisa gunakan hasil survey kapankamunikah.com di atas nih!

Ketika para cowok dan cewek ditanya tentang sifat apa yang membuat mereka yakin akan menikah, kebanyakan mereka memilih lima hal ini nih:

Ilmu Agama yang Baik

suami idaman
Ilmu agama yang baik gimana sih? (Pict: sacredoutfitter.blogspot.com)

Banyak yang berpikir bahwa punya agama yang baik otomatis punya kehidupan yang baik, seharusnya sih seperti itu. Bener banget kalau banyak yang membuat patokan ‘punya ilmu agama yang baik’ sebagai alasan terkuat untuk berani menikah.

Tapi sadar nggak sih kalau nggak semua yang memiliki ilmu agama baik lantas pernikahannya juga baik? Lho kok bisa? Agama sering dikaitkan dengan hubungan manusia kepada Tuhannya, lalu kebanyakan manusia lupa kalau dalam agama tersebut juga mengajarkan bagaimana memiliki hubungan yang baik antar manusia (teman, saudara, anak, keluarga, dsbnya).

Agama bukan hanya soal beribadah yang rajin atau menghafalkan kitab suci. Tapi soal memahami agama sehingga jadi pribadi yang baik dan nantinya gak akan membentak ke anak, menghargai istri atau suami serta menjadi pribadi yang lebih tenang, jadi saat nanti menikah bisa berkomunikasi yang baik antar anggota keluarga.

Jadi bener banget ketika agama jadi patokan, bukan sekadar ‘punya ilmu agama yang baik’ ya, tapi benar-benar memahami agama meski sedikit bisa menjadikan kita pribadi yang jauh lebih baik.

Dewasa

kapan kamu nikah
“Sayang, sini deh aku kasih tau, kalau udah hidup bareng, jangan taruh handuk sembarangan ya.” (Foto: lukihermanto.com)

Dewasa jadi presentase tertinggi yang dipilih para cewek lho! Wah, para cewek udah semakin sadar bahwa pernikahan memang perlu menjadi dewasa. Jelas perlu dewasa dong sebelum menikah, karena tau nggak sih, banyak pasangan yang berantem karena permasalahan kecil!

Misalnya nih, suami suka banget meletakkan handuk di tempat tidur, sebagai cewek kesel dong kalau barang-barang nggak diletakkan di tempatnya. Kalau kita nggak dewasa, pasti deh hal ini jadi permasalahan besar, masalah-masalah kecil ini jadi menumpuk dan nggak jarang jadi sebab perceraian.

Dewasa sendiri punya makna yang luas, mulai dari bisa memberi keputusan sendiri, dapat mengontrol masalah, bisa ngerti di mana diri sendiri dan pasangan kalau lagi sama-sama capek harus gimana, dan banyak hal lain yang bisa kita pelajari sejak sekarang dengan menghadapi permasalahan yang ada di depan kita dahulu.

Makanya, kita gak boleh bosan-bosan menghadapi segala problematika hidup, kalau lagi diuji berpikir aja, “Wah, lagi diuji jadi suami atau istri yang baik nih buat dapetin jodoh yang sama baiknya pula.” 

Bertanggung jawab

tanggung jawab saat menikah
Hidup akan terasa lebih mudah jika setiap yang dipilih sudah kita ketahui kebahagian, kesedihan, resiko dan apa yang perlu kita lakukan untuk pilihan itu. (Foto: zwitsal.co.id)

Bertanggung jawab yang seperti apa sih? Coba deh simak cerita di bawah.

Ada sepasang suami dan istri yang baru saja memiliki anak. Di sebuah pagi yang cerah, bukannya langsung memandikan dan mengajak anaknya untuk menikmati suasana pagi, suami dan istri ini malah berantem.

Istri: “Itu lho, Yah.. anaknya mandiin, aku capek banget.”

Suami: “Kamu aja, aku juga capek banget kemarin pulang malem.”

Sebuah kisah ini nyata dan benar-benar terjadi lho! Kalau gini ini salah siapa, dong? Rasa bertanggung jawab itu emang perlu ditanamkan sejak sekarang. Sebelum menikah harus banget dipahami kalau sudah menikah nanti apa saja yang perlu dihadapi dan resikonya apa aja, tapi tenang aja, selama kita punya pasangan yang bisa diajak berdiskusi, tentu semuanya lebih mudah.

Tidak Egois

Tidak egois juga jadi pilihan para cewek dan cowok sebagai patokan jika mereka sudah tidak egois maka sudah siap menikah. Percaya deh, kalau udah menjadi pribadi yang dewasa dan bertanggung jawab apalagi dilengkapi pemahaman agama yang baik, kita akan menjadi pribadi yang nggak egois juga.

Memiliki sifat keibuan

uniqueetdifferent.blogspot.com
Mau nggak kalau suami kita lebih jago masak? (Pic: uniqueetdifferent.blogspot.com)

Tentu ini menjadi pilihan para cewek dong ya, tapi para cowok juga perlu lho sifat ‘keayahan’, karena ketika punya anak nanti, mereka perlu sosok Ayah dan Ibu secara lengkap, jadi jangan lupa beri waktu lebih untuk anakya! Pada hakikatnya memang ada pendidikan yang hanya bisa diberikan oleh sosok Ayah saja dan Ibu saja.

Tapi sosok ‘keibuan’ yang seperti apa sih yang dibutuhkan? Selain penuh kasih sayang kepada anak, peduli dengan perkembangan anak dan tentunya memahami parenting, keibuan sering dikaitkan dengan ‘bisa memasak’. Berarti semua cewek harus bisa masak dong? Nggak juga sih, tapi apa lagi yang paling dirindukan oleh suami dan anak kalau lagi pergi keluar jauh selain ‘makanan rumahan’?

Nggak perlu jago-jago kayak koki kok, cukup bikin sop ayam dan tempe goreng sendiri yang disajikan penuh kasih sayang, dijamin deh suami dan anak bakal lebih sering kangen sama rumah. Setidaknya sebelum menikah, nggak ada salahnya menguasai satu masakan yang bener-bener kita jago, biar suami nggak sedih kalau harus beli makan di luar atau menikmati masakan kita sebagai Ibu yang gagal terus hihihi.

*********

Lima hal ini yang seenggaknya bisa kamu pelajari sejak sekarang dan semoga pasangan kamu juga membaca tulisan ini sehingga sama-sama belajar. Ketika dipertemukan di dunia pernikahan, dijamin udah ngerti gimana menyikapi sebuah pernikahan yang tentu penuh dengan lika-liku serta naik turun. Tapi nggak seserem itu kok, dengan menikah, berarti kita dalam tahap menjadi manusia yang lebih kuat dan keren lagi karena punya segudang pengalaman kehidupan yang nggak dialami oleh orang yang nggak menikah. 

Foto: alienco.net

Leave a Comment

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.
Required fields are marked *